Batman Begins - Help Select

Sabtu, 10 Januari 2015

SAREKAT ISLAM (SI) ANTARA ISLAM DAN KOMUNIS



SAREKAT ISLAM BAGAIKAN DUA SISI MATA UANG YANG BERBEDA
Islam merupakan agama mayoritas terbesar yang ada di Indonesia, dari zaman dahulu pejuang bangsa ini berjuang melawan penjajah dengan membawa nama Islam sebagai simbol nasionalisme. Dengan dijadikan Islam sebagai simbol nasionalisme inilah yang menjadi suatu kekuatan bagi rakyat indonesia untuk melawan penjajahan yang terjadi, hal ini dikarenakan, penjajahan merupakan suatu kezaliman yang dilakukan oleh Belanda yang telah merampas seluruh kekayaan yang ada di Indonesia, dan penindasan terhadap kehidupan. Maka, dengan adanya penjajahan tersebut memunculkan pemahaman terhadap rakyat Indonesia bahwa Islam itu sangat dekat dengan nasionalisme. Sehingga pada abad ke-20 telah berdiri organisasi – organisasi pergerakan yang mengatas namakan Islam sebagai pondasi dasar untuk melawan kolonial Belanda.
Seperti yang telah disebutkan oleh Ki Hajar Dewantara pada tulisannya yang berjudul “Het Javaancsche Nationalisme in de Indische Beweging” ( dalam Suryanegara,2009:281) Islam menjadi anti-Politik Kristenisasi karena Kristenisasi identik dengan imperialisme atau penjajahan. Tulisan ini dibuat karena beliau menyaksikan sendiri kondisi Indonesia pada masa itu, bagaimana pandangan Islam sebagai agama mayoritas yang tertindas. Demikian pula sikap rakyat yang tidak menerima Kristen dijadikan tameng penindasan penjajah Belanda dengan politik Kristenisasinya. Karena pada dasarnya Belanda pada awal kedatangannya membawa misi 3G (glory, gospel,gold).

Dengan adanya ideologi keislaman inilah yang membuat beberapa pejuang mengatas namakan Islam sebagai kekuatan untuk memerangi Belanda. Seperti perlawanan H. Hasan yang diceritakan oleh Chusnul Hayati (2000:180) Ideologi perang suci menonjolkan penolakan masyarakat muslim terhadap pemerintah kafir. Sehingga jika melakukan perlawanan maka bisa dikatakan bahwa perlawanan tersebut merupakan peperangan di jalan Allah SWT. Sehingga jika gugur akan dikatakan mati dalam keadaan sahid.
Pada tahun 1911 telah berdiri suatu perserikatan yang mengatas namakan Islam yaitu Sarekat Islam yang dulunya bernama Sarekat Dagang Islam. Ini juga salah satu revolusi yang dilakukan oleh masyarakat terhadap penindasan kepada kaum priyayi maka Serikat Islam mempunyai sasaran anggotanya yang mencakup seluruh rakyat jelata yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Akan tetapi SI terpecah menjadi dua karena perbedaan sudut pandang yang dimana satunya kearah Islamisme dan satunya lagi ke arah komunisme.
Sebenarnya penyimpangan SI merah (Komunisme) memiliki sifat lebih terbuka, karena bangsa Indonesia tidak hanya memiliki satu agama saja, Indonesia memiliki berbagai suku agama. Seperti yang ungkapkan Luthfi Assyaukanie (2011:53) bahwa Pemimpin cabang Semarang seperti Semaun, Darsono, dan Alimin, menganggap CSI ( Central Sarekat Islam ) tidak sanggup menerima kemajemukan masyarakat Indonesia. Mereka mengusulkan agar dasar Islam SI diubah menjadi Komunisme, karena Komunisme menerima segala macam manusia, Muslim serta non-Muslim.
Dilihat dari pernyataan tersebut maka kelompok SI merah ini bukanlah golongan Atheis seperti apa yang dikatakan orang terhadap Komunis. SI merah tersebut hanya ingin mengakui kemajemukkan Indonesia sebagai bangsa yang tidak hanya memiliki satu agama saja dan tidak hanya agama Islam saja yang dijajah, akan tetapi sebagai bangsa Indonesia kita memiliki hak dan kewajiban yang sama tanpa memandang ras dan golongan agama. Seperti yang telah dikatakan oleh Prof. Soetandyo Wignyosoebroto “ Pada pencarian national identity, ketika kehidupan lokal berganti kehidupan nasional.Tapi sekarang kehidupan kan tidak berhenti pada kehidupan nasional. Kita juga mencari identitas sebagian bagian dari makhluk bumi yang tidak hanya hidup dalam lingkaran suku, lingkaran bangsa tapi juga pada lingkaran umat”. Jika demikian, maka SI merah bertujuan untuk mencari identitas bangsa secara keseluruhan mencakup wilayah Indonesia yang sama – sama terjajah oleh kolonialisasi Belanda dan bersama – sama berjuang untuk terlepas dari penjajahan yang menyengsarakan seluruh rakyat Indonesia.
Dalam Islam kita juga harus memberikan kebebasan orang lain untuk menjalankan agama sesuai dengan keyakinan masing – masing, kesemuanya jelas tertuang dalam Surat Al Kafirun Ayat 1-6. Jika dari kedua paham tersebut bisa disatukan dalam mencapai kemerdekaan bukan tidak mungkin Indonesia bisa merdeka sebelum tahun 1945, karena mereka akan sadar sebagai satu bangsa yaitu Indonesia. Yang menjadi masalah pada awal abad ke-20 hanya lah perbedaan sudut pandang Islam dan Komunis yang bersifat Sosialis, padahal Islam itu sendiri identik dengan sosial seperti isi kandungan Surat Al Kafirun ayat 1-6 itu sendiri.

Untuk Indonesia sendiri kuranglah begitu tepat mencampur aduk kan agama dan negara karena jika itu dibahas sebagai suatu konsep negara Indonesia yang begitu banyak terdapat suku bangsa dan budaya tentulah tidak akan ada habis - habisnya. Bukan membuat Indonesia semakin dapat bersatu, bahkan akan membuat Indonesia terpecah belah karena pasti akan ada kelompok – kelompok yang menganggap dirinya lebih baik dari kelompok lain.  Agama ya agama, tergantung siapa yang menjalankannya. Tergantung dari pribadi manusia itu sendiri yang menjadikan agama sebagai benteng bagi dirinya dalam kehidupan, karena pada dasarnya semua agama mengajarkan kebaikan dan kebenaran. Sedangkan negara ya negara, negara adalah milik seluruh warga negara yang mendiami negara tersebut tanpa memandang siapa dia, agama apa dia, suku apa dia, dan lain sebagainya. Negara juga menjadi tanggung jawab bagi seluruh warga negara dan berhak mempertahankan negaranya dari ancaman, baik ancaman dari luar maupun dari dalam negara itu sendiri.






Daftar Bacaan
Assyaukanie, Luthfie.2011.Ideologi Islam dan Utopia. Jakarta: Freedom Institute
Hayati, Chusnul.2000. Peristiwa Cimareme 1919. Semarang: Mimbar Offset
Tono, Suwidi.2000. “Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta”. Jakarta: Vision 03
Suryanegara, Ahmad Mansur.2013. Api Sejarah. Bandung: PT Grafindo Media Pratama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar