Batman Begins - Help Select

Sabtu, 10 Januari 2015

CERITA RAKYAT KALBAR (BATU BALAH BATU BETANGKUP)

BATU BALAH BATU BETANGKUP
Konon pada zaman dahulu terdapatlah sebuah batu besar yang bisa dikatakan ajaib oleh warga di daerah Sambas. Batu tersebut biasa digelar Batu belah batu betangkup. Batu tersebut sangat ditakuti oleh penduduk setempat karena di sekitar batu tersebut memiliki pantangan – pantangan yang harus ditaati oleh warga. Dan apabila pantangan tersebut dilanggar maka batu tersebut akan terbuka atau membelah dan menelan siapa saja yang berada di atasnya sehingga tidak dapat keluar lagi.
Di sebuah kampung yang masih masuk ke dalam wilayah Sambas, kampung tersebut bernama Pemangkat merupakan tempat batu ini berada. Tak jauh dari batu tersebut terdapat rumah yang didiami oleh satu keluarga yang terdiri dari ibu dan kedua anaknya. Ibu tersebut bernama Mak Tanjung dan kedua anaknya bernama Melur dan Pekan. Mak Tanjung sangat sering bersedih karena beliau baru saja kehilangan seorang suami yang ia cintai. Kini beliau terpaksa harus membanting tulang untuk menghidupi dan menjaga kedua anaknya dalam keadaan yang serba kekurangan.
Pada suatu hari, Mak Tanjung ingin sekali memakan telur ikan tembakul. Maka, ia pun bergegas pergi ke sungai untuk mencari ikan tembakul tersebut. Ketika menangkap ikan tersebut bukan main senangnya hati Mak Tanjung, karena dengan ikan dan telurnya lah ia dapat lauk sebagai pelengkap nasi yang akan di makan bersama kedua anaknya.
"Wah, besarnya ikan yang mak dapat !" teriak Pekan kegembiraan.
" Ya, ini ikan tembakul namanya. Mak rasa ikan ini ada telurnya. Sudah lama mak teringin untuk memakan telur ikan tembakul ini," kata Mak Tanjung.
Mak Tanjung pun langsung menyiang ikan tembakul yang telah ditangkapnya itu dan dia pun menyuruh anak perempuan sulungnya yang bernama Melur untuk dimasak gulai. Setelah menyuruh anaknya untuk memasak gulai kepada Melur, Mak Tanjung pun berkata kepada anak perempuannya. " Masaklah gulai ikan dan goreng telur ikan tembakul ini. Mak hendak ke hutan mencari kayu. Jika mak lambat pulang, Melur makanlah dahulu bersama Pekan. Tapi, jangan lupa untuk tinggalkan telur ikan tembakul untuk mak," pesan Mak Tanjung kepada Melur.
Sepergi ibunya untuk mencari kayu bakar di hutan, Melur pun menjalankan amanat ibunya itu. Setelah selesai memasak gulai ikan tembakul, kemudian Melur menggoreng telur ikan tembakul pula. Setelah semuanya selesai, Melur menyisihkan sedikit telur ikan itu untuk ibunya dalam sebuah bakul. Melur dan Pekan pun menunggu ibunya untuk makan bersama, akan tetapi dah sampai siang hari Mak Tanjung belum kembali dari mencari kayu bakar. Pekan pun menangis karena tidak sanggup lagi menahan lapar. Karena tidak tega melihat adiknya yang sudah menangis tersebut maka Melur terus menyajikan nasi, gulai ikan, dan telur ikan tembakul untuk dimakan Pekan.
" Hmmm..sedap betul telur ikan ini," kata Pekan sambil menikmati telur ikan goreng.
" Eh Pekan, janganlah asyik makan telur ikan sahaja. Makanlah nasi dan gulai juga," pesan Melur kepada Pekan.
" Kakak, telur ikan sudah habis. Berilah Pekan lagi. Belum puas rasanya makan telur ikan tembakul ini ," minta Pekan.
" Eh, telur ikan ini memang tidak banyak. Nah, ambil bahagian kakak ini," jawab Melur.
Pekan terus memakan telur ikan kepunyaan kakaknya itu tanpa berfikir lagi. Enak betul rasa telur ikan tembakul itu! Setelah habis telur ikan dimakannya, Pekan meminta lagi.
" Kak, Pekan hendak lagi telur ikan," minta Pekan kepada Melur.
" Eh , mana ada lagi ! Pekan makan sahaja nasi dan gulai ikan. Lagipun, telur ikan yang tinggal itu untuk mak. Mak sudah pesan dengan kakak supaya menyimpankan sedikit telur ikan untuknya ," kata Melur.
Mendengar perkataan kakaknya tersebut Pekan terus mendesak dan ia pun menangis lagi. Melur pun membujuk Pekan, akan tetapi pujukan tersebut malah membuat tangisan Pekan semakin nyaring. Tiba – tiba Pekan berlari dan mencapai telur ikan yang disimpan Melur untuk ibunya.
" Hah, rupa-rupanya ada lagi telur ikan! " teriak Pekan dengan gembiranya.
" Pekan! Jangan makan telur itu! Kakak simpankan untuk mak," teriak Melur.
Tapi Pekan tidak menghiraukan teriakan kakaknya, Melur. Pekan pun melahap telur ikan tersebut sampai habis. Tak lama kemudian Mak Tanjung pun pulang dari mencari kayu bakar. Melihat ibunya datang dengan bergegas Melur terus menyajikan makanan untuk ibunya.
" Mana telur ikan tembakul, Melur? " tanya Mak Tanjung.
" Err... Melur ada simpankan untuk mak, tetapi Pekan telah menghabiskannya. Melur cuba melarangnya tetapi...."
" Jadi, tiada sedikit pun lagi untuk mak? " tanya Mak Tanjung.
Melur tidak menjawab pertanyaan ibunya, karena merasa serba salah. Ia sangat sedih melihat ibunya yang sangat ingin memakan telur ikan tembakul tersebut dan sangat terpukul hatinya ketika melihat wajah ibunya yang begitu hampa karena tidak dapat menikmati telur tembakul.
" Mak sebenarnya tersangat ingin memakan telur ikan tembakul itu. Tetapi...." sebak rasanya hati Mak Tanjung kerana terlau sedih dengan perbuatan anaknya, Pekan itu.
Mak Tanjung memandang kedua anaknya tersebut, Melur dan Pekan. Dengan sangat penuh kesedihan dan hati yang kecewa ia lalu berjalan menuju ke hutan. Hatinya bertambah pilu ketika mengingat mendiang suaminya dan merasakan kini dirinya tidak dikasihi lagi. Mak Tanjung berfikir anak – anak nya tidak menyayanginya lagi karena telah melukakan hatinya sebegitu rupa.
Tak jauh dari belakang Mak Tanjung, Melur dan Pekan pun berlari mengejar ibu mereka dari belakang. Mereka berteriak dan menangis sambil memanggil – manggil memujuk ibu mereka supaya pulang. Timbul penyesalan dari dalam diri kedua anak Mak Tanjung.
" Mak, jangan tinggalkkan Pekan! Pekan minta maaf ! Mak...." jerit Pekan sekuat hatinya.
Melur turut menangis dan berteriak, " Mak, Kasihanilah kami! Mak!"
Melur dan Pekan sangat takut jikalau ibu mereka tersebut menuju ke arah batu belah batu betangkup. Mereka terus saja berlari berteriak, menangis dan membujuk Mak Tanjung agar mereka dimaafkan atas kesalahan yang telah mereka perbuat sebelumnya sehingga membuat luka hati ibu mereka. Malangnya, Melur dan Pekan sudah terlambat untuk membujuk ibu mereka, hati ibunya telah hancur atas perlakuan anaknya sehingga Mak Tanjung tidak memperdulikan teriakan dan tangisan kedua anaknya itu. Mak Tanjung terus menuju ke arah batu belah batu betangkup dan berdiri di atasnya. Mak tanjung pun mengucapkan kata yang telah dipantangkan warga, setelah mak tanjung mengucapkan kata – kata pantangan tersebut batu tersebut pun terbelah dan menelan Mak Tanjung sampai habis kemudian batu tersebut tertutup kembali.
Melur dan Pekan pun menangis karena melihat ibunya ditangkup (ditelan) batu di depan mereka. Kedua kakak beradik itupun menunggu ibunya kembali di hadapan batu tersebut akan tetapi ibunya tak kunjung muncul. Dan sampai sekarang ini tempat tersebut berada di kawasan Tanjung Batu yang terletak di Kecamatan Pemangkat. Untuk mengenang cerita ini juga di Sambas menciptakan sebuah lirik lagu yang berjudul “Batu Ballah Batu Betangkup”.

A.  Kesimpulan
Berdasarkan cerita rakyat tersebut dapat lah di ambil sebuah amanah yang dapat kita petik sebagai pelajaran di dalam kehidupan sehari – hari baik di dalam keluarga maupun masyarakat. Adapun amanah yang tersirat di cerita rakyat ini yaitu:
1.      Bertanggung Jawab
ü  Sebagai seorang ibu harus lah memiliki tanggung jawab kepada anak-anaknya walaupun selepas ditinggal suami. Tanggung jawab yang dapat dilihat dari seorang ibu tersebut ia rela bekerja membanting tulang sendirian untuk menghidupi kedua anaknya.
ü  Sebagai seorang anak hendaknya selalu menjaga amanah ibunya walau apapun yang terjadi
2.      Jujur
Dari cerita tersebut di ajarkan untuk selalu berkata jujur dalam keadaan apapun.
3.      Mandiri
Dalam kisah itu kita di ajarkan selalu hidup mandiri tanpa tergantung dengan orang lain. Mak Tanjung yang bekerja sendiri tanpa meminta bantuan dari warga sekitar walaupun ia tidak mampu. Serta Melur yang bisa membantu ibunya memasak ketika ibunya pergi.
4.      Kerja Keras
Dalam kondisi yang serba kekurangan dari kisah tersebut Mak Tanjung tetap bekerja dan tidak mengharapkan sumbangan dari kerabat maupun tetangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar