Batman Begins - Help Select

Kamis, 13 Juni 2013

PEMAHAMAN TEATER

Seni sebagai media penyadaran
Seni terbukti telah menjadi media ampuh dalam perjuangan. Bumbu agitasi dan propaganda dalam sebuah karya seni, tidak dipungkiri dapat menimbulkan semangat kaum muda yang mendambakan perubahan.
Dunia seni selalu membawa kita pada untaian syair indah, beat music atau ekpresi lepas, sebatas itu sajakah seni dimaknai ?. apakah ada hal lain yang perlu dibongkar tentang seni.
Dua kiblat seni.
Dalam dunia seni, perdebatan juga terjadi, ada pandangan seni dalah manifestasi dari estetika secara murni, pandangan ini muncul di tengah keraguan seni akan diperalat oleh kepentingan politik tertentu atau penguasa, pandangan ini khawatir seni terkontaminasi doktrin-doktrin ideologis dan akhirnya menjadikan seni sebagai barang pesanan tuannya. Pandangan lainnya menganggap seni tidak lepas dari hal-hal diluar estetika, memandang seni tidak hanya dari karya, cara mencitakan karya atau keindahan semata.
Kenyataan membuktikan, semua karya menunjukan kepada siapa dia berpihak, artinya dia tidak netral atau mengusung nilai tertentu. Dikalangan pemuda hari ini, menjamur seni dan budaya liberal, feudal, pasaran, plagiat atau tidak mempunyai karakter sendiri. Hal ini mencerminkan kondisi negeri kita hari ini yang masih terbelakang dan didominasi imprealisme.
Bagaimana seharusnya kita memandang seni ?
Seni pada dasarnya merupakan bentuk ungkapan yang indah dari isi kehidupan nyata. Diangkat, diterjemahkan dan dituangkan ke dalam berbagai bentuk karya seperti: satra (syair, puisi, cerpen, novel dll), seni rupa (mural, graffity, karikatur, lukisan perlawanan dll), seni pertunjukan (drama, operet, teaterikal, sandiwara, teater dll), seni suara (music perjuangan dan perlawanan, paduan suara, mars2), seni tari dan lainnya.
Seni juga membutuhkan kecakapan dalam menguak keadaan yang nyata, tugas seni adalah memudahkan penjelasan akan keadaan yang nyata, bukan justru menghadirkan karya yang rumit untuk dipahami massa. Singkatnya, seni harus disajikan dengan sederhana, mudah dipahami massa, tetapi tidak mengurangi keindahan. Organisasi massa di bidang kesenian, yang sehari-hari hidup ditengah massa harus mampu mengembangkan kerja-kerja seni dan budaya untuk mencerahkan seluruh rakyat.
Sehingga pandangan kita terhadap seni dan kebudayaan yang diangkat harus mencerminkan rintihan penderitaan masyarakat, resah dan kegelisahan pemuda yang tertekan oleh mahalnya biaya pendidikan, berderap aksi-aksi massa hingga masa depan gemilang kemenangan perjuangan pemuda-mahasiswa dan seluruh rakyat Indonesia, selanjutnya dituangkan dalam bentuk pementasan teater yang memberikan pemahaman dan jiwa ingin terlepas dalam situasi permaslahan, sastra yang menguncang pembaca, lantunan puisi yang heroic dan indah, beat music yang menghentak, lantunan irama yang harmonis, gambar eye cathing dll.

Tiga jenis seni
Setidaknya seni memiliki tiga (3) ciri, yakni :
1. Seni feudal. Yaitu seni yang diabdikan untuk melanggengkan penindasan dan budaya feudal yang mengkultuskan sesuatu dan berbau mistis. Seperti upacara-upacara adat untuk pemujaan terhadap raja, kawulo gusti dan sejenisnya.
2. Seni borjuasi. Yaitu seni yang mengabdi kepada kepentingan borjuis, menyebarkan gaya hidup dan menopang pikiran-pikiran borjuis yang menindas. Diexpresikan lewat karya-karya seni yang memuja kemewahan, romantisme berlebihan, cerita-cerita cabul, heroisme ala amerika “seakan-akan permasalahan bisa dipecahkan dengan keberadaan dirinya sendiri” (layaknya Supeman, Spiderman, Rambo Dll), dan selalu berorientasi komersil atau hanya dijadikan wadah eksistensi pemuas nafsu si-pekerja kesenian saja (yang penting bisa pentas/yang penting punya karya).
3. Seni progresif. Yaitu kesenian yang mengabdi kepada massa dan rakyat tertidas, seni progresif senantiasa bersifat jujur, terbuka, sederhana dan apa adanya. Mengexpresikan daya kreatifnya dalam mengungkap realitas kehidupan, bertumpu pada kenyataan pahitnya hidup dalam situasi ketidakberdayaan, ditujukan untuk membangkitkan kesadaran untuk melawan penindasan dan penghisapan demi tegaknya keadilan social bagi masyarakat yang terpinggirkan, kemudian tidak menekankan efek komersial dalam berkarya.
Seni dan perjuangan massa
Tingkat keberhasilan suatu hasil karya dilihat dari sejauh mana hasil karya tersebut dapat menggerakan penikmatnya dan keberhasilan suatu pekerjaan seni beriringan dengan bangkitnya kesadaran massa untuk bergerak dalam perjuangan massa. Seni akan menjadi picisan tatkala habis sebatas diskusi atau sebagi pemuas nafsu kerja-kerja kreatif saja, atau bahkan sebagai penghias di pensi-pensi atau coretan-coretan vandal tak berarti. Seni akan mengigit ketika berbagai karya baik itu graffiti, mural, kartun, cerpen, novel, teater, drama, puisi bernuansa progresif. Menghiasi pojok-pojok jalan, pasar, kampus, tempat hang out dan disetiap sudut tempat masyarakat luas berkumpul. Hadir dalam situasi kegamangan masyarakat dalam melihat permasalahan yang dihadapinya. Menjadi pembangkit semangat yang memimpin kesadaran dan pengetahuan massa kemudian terlibat aktif dalam mengkampanyekan permasalahan dan bergabung kedalam aksi perjuangan bersama massa yang terpimpin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar