Batman Begins - Help Select

Sabtu, 27 Oktober 2012

SEJARAH MANDOR


1. Sejarah
Menurut Syarif Ibrahim Alqadrie, Kesultanan Kadriah Pontianak diKalimantan Baratadalahkesultanan termuda di nusantara, bahkan di dunia, karena kesultanan ini didirikan relatif palingterakhir dibandingkan dengan kemunculan kesultanan-kesultanan lainnya (Syarif IbrahimAlqadrie, 1979:12). Pada tanggal 23 Oktober 1771 Masehi, kesultanan yang lahir dari perpaduankebudayaan Arab, Melayu, Bugis, dan Dayak ini resmi didirikan oleh Syarif AbdurrahmanAlqadrie (Ansar Rahman,
et.al,
2000:xxvii).
a. Riwayat Berdirinya Kesultanan Kadriah – Pontianak
Syarif Abdurrahman Alqadrie yang menjadi sosok sentral atas berdirinya Kesultanan KadriahPontianak di Kalimantan Barat adalah putra dari Sayid Habib Husein Alqadrie, seorang penyiar agama Islam asal Timur Tengah. Husein Alqadrie dilahirkan pada tahun 1706 M di sebuah kotakecil bernama Trim di Hadramaut (Yaman Selatan). Setelah mendalami ajaran Islam dan ilmu pengetahuan lainnya selama lebih dari 4 tahun, Husein Alqadrie berkeinginan merantau kenegeri-negeri timur. Keinginan itu didukung oleh tiga kawan seperguruannya yakni SayidAbubakar Alaydrus, Sayid Umar Assegaf, dan Sayid Muhammad Ibnu Ahmad Qudsi(Mahayudin Haji Yahya, 1999:224).Dalam perantauannya, keempat pendakwah itu tiba di Terengganu (sekarang termasuk wilayahnegara Malaysia). Dari Terengganu, mereka kemudian menuju keAceh. Di sinilah keempatsahabat itu berpisah. Sayid Abu Bakar Alaydrus tetap tinggal di Aceh, Sayid Umar BachsanAssegaf meneruskan perjalanan keSiak , dan Sayid Muhammad Ibnu Ahmad Al-Qudsi kembalike Terengganu (Rahman, 2004:16). Sedangkan Husein Alqadrie sendiri melanjutkan perjalanannya menyusuri Pantai Timur Sumatra menuju ke Pulau Jawa untuk mengunjunginegeri-negeri Islam yang dilaluinya, termasuk Palembang, Banten, Cirebon, Demak, Mataram,Jawa bagian timur, dan Betawi (Yahya, 1999:224-225).Husein Alqadrie kemudian menetap di Semarang selama dua tahun. Dari Semarang, iamenyeberangi lautan hingga sampai di wilayahKesultanan Matandi Ketapang, KalimantanBarat. Kehadiran Husein Alqadrie disambut baik oleh keluarga Kesultanan Matan yang waktu itudipimpin oleh Sultan Muhammad Muazzuddin (1724−1738 M). Husein Alqadrie berhasilmenawan hati warga Kesultanan Matan karena tidak lama setelah kedatangannya, HuseinAlqadrie diangkat menjadi hakim/
qadhi
kesultanan oleh Sultan Muhammad Muazzuddin.Bahkan oleh rakyat Matan, Husein Alqadrie sangat dihormati seperti layaknya seorang wali(Musni Umberan,
et.al.,
1995:46-47).Tidak hanya itu, Husein Alqadrie kemudian dinikahkan dengan anak perempuan SultanMuhammad Muazzuddin yang bernama Nyai Tua. Dari perkawinan itu, Husein Alqadriedikaruniai 4 orang anak, yaitu Syarifah Khadijah, Syarif Abdurrahman Alqadrie, SyarifahMariyah, dan Syarif Alwie Al-Qadrie. Syarif Abdurrahman Alqadrie dilahirkan pada tahun 1739M (Alqadrie, 2005, dalam http://syarif-untan.tripod.com).Pada tahun 1738 M, Sultan Matan, Sultan Muhammad Muazzuddin, wafat dan digantikan SultanMuhammad Tajuddin (1738–1749 M). Husein Alqadrie masih bertahan di Kesultanan Matanhingga Sultan Muhammad Tajuddin digantikan oleh Sultan Ahmad Kamaluddin (1749−1762 M).Pada masa ini, Husein Alqadrie berselisih paham dengan Sultan Ahmad Kamaluddin tentang
kebijakan hukuman mati. Ketidaksepahaman ini membuat Husein Alqadrie beserta keluarganyameninggalkan Matan pada tahun 1755 M dan beralih ke Kesultanan Mempawah yang kala itudipimpin oleh Opu Daeng Menambun (1740-1766 M) (Alqadrie, 2005, dalam http://syarif-untan.tripod.com).Rombongan Husein Alqadrie disambut suka-cita oleh keluarga Kesultanan Mempawah. HuseinAlqadrie kemudian diangkat sebagai patih dan imam besar Kesultanan Mempawah. Atas izinOpu Daeng Menambon pula, Husein Alqadrie menempati daerah Kuala Mempawah atau GalahHerang yang menjadi tempat di mana ia mengajarkan Islam. Untuk mempererat hubungan antarakeluarga Husein Alqadrie dengan Kesultanan Mempawah, maka Syarif Abdurrahman Alqadriedinikahkan dengan putri Opu Daeng Menambon dari Ratu Kesumba, bernama Putri Candramidi.Perkawinan ini dikaruniai tiga orang putra dan tiga orang putri (Muhammad Hidayat, tt: 21).Kesukaan Syarif Abdurrahman Alqadrie adalah berkelana, baik untuk berdagang atau sekadar berpetualang mengunjungi negeri-negeri lain. Pada tahun 1759 M, Abdurrahman Alqadriemengadakan pelayaran ke beberapa tempat seperti ke Pulau Tambelan, Siantan, dan Siak.Selanjutnya, pada tahun 1765 M, ia berlayar menuju Palembang. Dua tahun kemudian,Abdurrahman Alqadrie melakukan perjalanan ke Banjarmasin dan menetap di KesultananBanjar. Pada tahun 1768, Abdurrahman Alqadrie menikah lagi dengan putri Sultan Banjar yang bernama Syarifah Anum dan mendapat gelar Pangeran Syarif Abdurrahman Nur Alam (Alqadrie,2005, dalam http://syarif-untan.tripod.com).Ketika Abdurrahman Alqadrie masih berada di Banjarmasin, dua orang yang disayanginyawafat. Pada tahun 1766 M, Sultan Mempawah Opu Daeng Menambon meninggal dunia,kemudian disusul oleh sang ayah, Husein Alqadrie, yang menghembuskan nafas penghabisan pada tahun 1770 M. Mangkatnya dua orang yang sangat dihormati dan dibanggakan olehAbdurrahman Alqadrie itu mendorongnya untuk mencari tempat permukiman baru.Pada tahun 1771 M, rombongan Abdurrahman Alqadrie, di antaranya terdapat lima putra OpuDaeng Menambon, yaitu Panembahan Adijaya, Syarif Ahmad, Syarif Abubakar, Syarif Alwie,dan Syarif Muhammad, mulai berlayar untuk mencari tempat permukiman baru. Setelah 4 hari perjalanan, mereka tiba di sebuah pulau kecil bernama Batu Layang yang terletak 15 kilometer dari muara Sungai Kapuas. Dari sini, rombongan meneruskan perjalanan hingga mendekatisimpang tiga pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Berdasarkan cerita yang diyakinimasyarakat lokal di sana, di tempat inilah rombongan Abdurrahman Alqadrie berperangmelawan “makhluk halus” yang oleh warga setempat disebut dengan nama hantu “kuntilanak”Menurut pandangan Jimmy Ibrahim (1971), nama “kuntilanak” tersebut hanya merupakan kiasanuntuk menjelaskan bahwa pengganggu rombongan Abdurrahman Alqadrie itu adalahgerombolan perompak/bajak laut yang biasa bersembunyi di persimpangan yang menjorok kearah Sungai Landak sebelum melakukan aksinya (Jimmy Ibrahim, 1971:17). Pada akhirnyananti, nama “kuntilanak” lambat-laun menjadi “Pontianak” yang tidak lain adalah nama kota diseberangIstana Kadriah Pada tanggal 23 Oktober 1771 M, rombongan Abdurrahman Alqadrie berhasil memukul mundur gerombolan perompak “kuntilanak” di muara Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Pada hari yangsama, rombongan Abdurrahman Alqadrie berlabuh di tepian Sungai Kapuas dan membangunsurau yang kelak menjadi masjid agung Kesultanan Kadriah Pontianak. Kemudian, rombonganAbdurrahman Alqadrie mulai mempersiapkan permukiman di sebuah tempat yang menjorok kedarat sekitar 800 meter dari surau. Permukiman inilah yang menjadi tempat dibangunnya IstanaKesultanan Kadriah Pontianak. Meski sudah merintis pendirian pemerintahan Kadriah Pontianak sejak tahun 1771 M, namun baru pada tahun 1778 M Abdurrahman Alqadrie secara resmidinobatkan sebagai Sultan Kadriah Pontianak dengan gelar Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrieyang berkuasa sampai tahun 1808 M
b. Kesultanan Kadriah Pontianak pada Masa Kolonial
Penobatan Abdurrahman Alqadrie sebagai Sultan Kadriah Pontianak pada tahun 1778 Mdilakukan oleh Sultan Raja Haji, penguasa Kesultanan Riau, dan dihadiri oleh para pemimpindari sejumlah kerajaan, termasuk dari Kerajaan Matan, Sukadana, Kubu, Simpang, Landak,Mempawah, Sambas, dan Banjar. Abdurrahman Alqadrie memang memiliki kedekatanhubungan dengan keluarga Kesultanan Riau. Abdurrahman Alqadrie adalah menantu Opu DaengManambon (Sultan Mempawah), sedangkan Sultan Raja Haji adalah putra Daeng Celak yangtidak lain adalah saudara sekandung Opu Daeng ManambonPada masa itu, Belanda melalui VOC (Vereenigde Oost indische Compagnie) yang dibentuk sejak 20 Maret 1602, sudah menanamkan pengaruhnya di Kalimantan Barat. VOC rupanyakhawatir melihat hubungan erat antara Kesultanan Kadriah Pontianak dengan beberapa kerajaanlain dan kemudian VOC berusaha menghancurkan persekutuan itu. Pada akhir tahun 1778 M,dari Batavia, VOC mengutus Nicholas de Cloek ke Pontianak untuk merangkul Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie, tetapi usaha pertama ini gagal. Selanjutnya, pada bulan Juli 1779 M,VOC mengirim Willem Adriaan Palm (Komisaris VOC) ke Pontianak. Dengan alasanmendirikan perwakilan dagang, VOC berhasil menanamkan pengaruhnya di Kesultanan KadriahPontianak. Palm kemudian digantikan Wolter Markus Stuart yang bertindak sebagai Residentvan Borneo’s Wester Afdeling I (1779 – 1784 M) dengan kedudukan di Pontianak Akal licik VOC rupanya berhasil membujuk Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie untuk melakukan ekspansi ke wilayah kerajaan-kerajaan yang semula menjadi sekutu KesultananKadriah Pontianak. Ini berarti VOC juga sukses mewujudkan misinya, yakni memecah-belah persatuan di antara kerajaan-kerajaan tersebut. Dengan bantuan VOC, pada tahun 1786 M,armada Kesultanan Kadriah Pontianak menyerang Kesultanan Tanjungpura di Sukadana.Kemudian, pada tahun 1787 M, Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie berhasil menaklukan Kesultanan Mempawah. Oleh VOC, putra sulung Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie dari PutriCandramidi, Syarif Kasim Alqadrie, diangkat sebagai Panembahan Mempawah (Hidayat, tt:22).Pengangkatan yang tidak disetujui oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie ini diresmikan berdasarkan perjanjian tertanggal 27 Agustus 1787 (Rahman, 2000:109-110).Syarif Kasim semakin tenggelam dalam pengaruh Belanda sampai ketika ayahnya wafat padatahun 1808. Sebelum mangkat, Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie sebenarnya telahmenetapkan putranya yang lain, Syarif Usman Alqadrie, sebagai penerus tahta KesultananKadriah Pontianak. Dikarenakan Syarif Usman masih kecil, maka Syarif Kasim merasa berhak menduduki singgasana sebagai pengganti ayahnya. Pada tahun 1808 itu, Syarif Kasim diangkatmenjadi Sultan Kadriah Pontianak namun dengan kesepakatan bahwa ia hanya menjabat selamasepuluh tahun sambil menunggu Syarif Usman beranjak dewasa. Perjanjian itu diingkari karena pada kenyataannya Syarif Kasim berkuasa sampai akhir hayat, yakni hingga tahun 1819.Di bawah rezim Sultan Syarif Kasim Alqadrie (1808 – 1819), Kesultanan Kadriah Pontianak semakin tergantung kepada pihak-pihak asing, yakni Belanda dan kemudian Inggris yang berkuasa di Hindia (Indonesia) sejak tahun 1811. Ketika Belanda kembali menguasai nusantara,termasuk Pontianak, Sultan Syarif Kasim Alqadrie memperkenankan Gubernur Jenderal HindiaBelanda LPJ Burggraaf du Bus de Gisignies (1826-1830) mendirikan sebuah benteng Belanda diPontianak yang diberi nama Marianne’s Oord, yakni nama putri Raja Negeri Belanda, RajaWillem I. Inilah asal-muasal nama kampung Mariana yang terletak di depan pelabuhanPontianak sekarang. Benteng Marianne’s Oord kemudian menjadi markas tentara Belanda dansering disebut sebagai Benteng du Bus (Rahman, 2000:113).Pada tanggal 25 Februari 1819 Sultan Syarif Kasim Alqadrie wafat dan dikebumikan di BatuLayang. Terjadi ketegangan perihal siapa yang berhak menjadi Sultan Kadriah Pontianak selanjutnya. Di satu pihak, Syarif Usman Alqadrie dianggap paling layak menduduki tahtaKesultanan Kadriah Pontianak. Namun di sisi lain, putra Sultan Syarif Kasim Alqadrie yang bernama Syarif Abubakar Alqadrie juga menginginkan singgasana tersebut. Di sinilah campur tangan Belanda kembali berperan. Sesuai kesepakatan sebelum Sultan Syarif Kasim Alqadriedinobatkan, Belanda kemudian menunjuk Syarif Usman Alqadrie (1819 – 1855) sebagai SultanKadriah Pontianak ketiga. Untuk meminimalisir konflik, Belanda memberi gelar Syarif Abubakar Alqadrie sebagai Pangeran Muda dan kepadanya diberi tunjangan 6000 gulden setiaptahun (Rahman, 2000:118).Di luar ketundukannya kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda, Sultan Syarif UsmanAlqadrie setidaknya pernah menorehkan beberapa kebijakan yang bermanfaat, termasuk denganmeneruskan pembangunan Masjid Jami’ pada tahun 1821 dan memulai pendirian Istana Kadriah pada tahun 1855. Pada bulan April 1855, Sultan Syarif Usman Alqadrie meletakkan jabatannyasebagai Sultan Kadriah Pontianak dan kemudian wafat pada tahun 1860 dengan meninggalkan 6orang istri dan 22 orang anak (Rahman, 2000:117-118).Anak tertua Sultan Syarif Usman Alqadrie, bernama Syarif Hamid Alqadrie, dinobatkan sebagaiSultan Kadriah Pontianak yang keempat pada tanggal 12 April 1855. Pada era Sultan Syarif Hamid Alqadrie (1855 – 1872), wilayah Belanda di daerah kekuasaan Kesultanan KadriahPontianak semakin meluas, termasuk di daerah bagian barat Sungai Kapuas Kecil yang menjadi pusat perdagangan dan pusat pemerintahan Belanda di Kalimantan Barat. Taktik Belanda yangseperti ini sudah dimulai sejak era Sultan Syarif Kasim Alqadrie sebagai upaya untuk terusmenekan Kesultanan Kadriah Pontianak dan mengecilkan peran Sultan Hamid Alqadrie

Sultan Syarif Hamid Alqadrie wafat pada tahun 1872, meninggalkan 3 orang istri, 3 orang selir,dan 20 orang anak.Putra tertua Sultan Syarif Hamid Alqadrie, Syarif Yusuf Alqadrie, diangkat sebagai SultanKadriah Pontianak beberapa bulan setelah ayahandanya wafat. Penguasa Kesultanan KadriahPontianak kelima, Sultan Syarif Yusuf Alqadrie (1872 – 1895), merupakan satu-satunya sultan diKesultanan Qadriah yang paling sedikit mencampuri urusan pemerintahan, sangat kuat berpegang pada aturan agama, dan merangkap sebagai penyebar agama Islam Era pemerintahanSultan Syarif Yusuf Alqadrie berakhir pada tanggal 15 Maret 1895 dan digantikan oleh putranyayang bernama Syarif Muhammad Alqadrie (1895 – 1944) yang dinobatkan sebagai SultanKadriah Pontianak yang kelima pada tanggal 6 Agustus 1895. Pada masa ini, campur-tanganBelanda dalam urusan internal Kesultanan Kadriah Pontianak semakin kuat dengan ikutmemaksakan pengaruhnya bahkan sampai dalam hal yang prinsip, yakni menghapuskan SyariatIslam dan menggantinya dengan hukum pidana dan perdata (Hidayat, tt:23).Di sisi lain, Sultan Syarif Muhammad Alqadrie sangat berperan dalam mendorong terjadinya perubahan di Pontianak. Dalam bidang sosial, ia pertama kali berpakaian kebesaran Eropasebagai pakaian resmi di samping pakaian Melayu dan menyokong majunya bidang pendidikanserta kesehatan. Di sektor ekonomi, Sultan Syarif Muhammad Alqadrie menjalin perdagangandengan Riau, Palembang, Batavia, Banten, Demak, dan Banjarmasin, bahkan dengan Singapura,Johor, Malaka, Hongkong, serta India. Selain itu, Sultan juga mendorong masuknya modalswasta Eropa dan Cina, serta mendukung kaum petani Melayu, Bugis, Banjar, dan Cinamengembangkan perkebunan karet, kelapa dan kopra serta industri minyak kelapa. Sementaradalam aspek politik, Sultan memfasilitasi berdiri dan berkembangnya organisasi politik yangdilakukan baik oleh kerabat kesultanan maupun oleh tokoh-tokoh masyarakat (Alqadrie, 2005,dalamEra kekuasaan Sultan Syarif Muhammad Alqadrie menjadi penanda tamatnya kekuasaanBelanda seiring kedatangan Jepang ke Indonesia pada tahun 1942. Namun, hadirnya balatentaraJepang di Pontianak justru menjadi petaka bagi Kesultanan Kadriah Pontianak. Pada bulanJanuari 1944, karena dianggap bersekutu dengan Belanda, Jepang menangkap Sultan Syarif Muhammad Alqadrie (pada tanggal 24 Januari 1944) beserta ribuan orang kerabat kesultanan, pemuka adat, dan tokoh masyarakat Kadriah Pontianak (Muhammad Yanis, 1983:170-182).Mereka kemudian dijatuhi hukuman mati pada tanggal 28 Juni 1944. Jenazah Sultan Syarif Muhammad Alqadrie baru ditemukan pada tahun 1946 (Mawardi Rivai, 1995:26). Tragedi berdarah tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Peristiwa Mandor
sumber: http://www.scribd.com/doc/56932859/sejarah-makam-perjuangan-mandor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar