Batman Begins - Help Select

Jumat, 21 Oktober 2011

DIKTAT SEJARAH INDONESIA MASA PERGERAKAN

OLEH YUVER KUSNOTO SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA (STKIP – PGRI) PONTIANAK DIKTAT Sejarah Indonesia Masa Pergerakan Tujuan: Diharapkan mahasiswa memahami i pengertian dan makna dari nasionalisme dalam perjuangan pergerakan nasional. A. NATION-NATIONAL-NATIONALITY-NATIONALSM Nation artinya bangsa, apakah bangsa itu? Bangsa mempunyai dua arti, pertama: dalam pengertian antropologi/ sosiologi, anation adalah kebudayaan. Kedua berdasarkan pengertian politiknya Nation adalah kenegaraan. Menurut Yacobsen dan Lipman, suatu bangsa itu adalah suatu cultur unity. Maksunya, terjadi karena adanya satu persekutuan hidup masyarakat yang berdiri sendiri, persekutusn ini merasa dalam satu ras, bahasa, religi ssejarah dan adat-istiadat . sedangkan Ruslan Abdulgani memaknai bangsa dalam pengertian kebudayaan adalah sekelompok manusia dengan persamaan cultur dan kebudayaan. Masih menurut Yacobsen dan Lipman suatu bangsa dalm makna politik adalah suatu political unitiy. Maksudnya adalah warga negara dalam Political Unity mungkin berbeda dari corak dan lapangan kehidupannya, berbeda pula kebudayaannya, tetapi mereka sebagai satu bangsa menjadi penduduk yang berdiam di dalam suatu daerah yang disebut wilayah sama, mempuyai pemerintahan yang sama dan mereka tunduk kepada kedaulatan negaranya, sebagai suatu kekuasaan tertinggi baik ke luar mapun ke dalam. Sedangkan pengertian bangsa dalam lahinya pancasila adalah karena kehendak untuk bersatu karena persatuan nasib ditambah geopolitik yang sama. National Istilah ini lebih pada makna kwafikasi atau pensifatan atau pemberian nama kepada segala kegiatan manusia selaku warga negara dalam segala aspek. Contoh pendidikan nasional, perekonomian nasional, aspirasi nasional, dan lain-lain. Nationality adalah menunjukan satu kesatuan yang khas bagi suatu bangsa (dalam arti politik) yang dimanifestasikan dalam politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan ( Poleksusbudhankam) contohnya :moral nasional, kepribadian nasional, Dll. Nationalism adalah suatu faham kebangsaan, maksudnya adalah pendirian atau keyakinan suatu bangsa dimana mereka dalam stu ikatan persatuan dan kesatuan sebagai suatu bangsa, baik ke luar maupun ke dalam. B. perkembangan nasionalisme Indonesia Reaksi terhadap penjajahan Belanda pada prinsipnya merupakan kristalisasi dari nilai-nilai nasionalisme, hanya formulasinya saja yang berkembang sesuai dengan perkembangan jaman. Seperti perlawanan model zelotisme dan model herodianisme. Kebangkitan nasional merupakan wujud dari model perlawanan herodianisme. Nasionalisme Indonesia tumbuh dan berkembang dari proses perjalanan sejarah. Hal ini terlihat dri pola yang dikembangkan oleh para tokoh-tokoh pergerakan nasional dalam memobilisir rakyat untuk mengadakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Dengan memordenisir sifat-sifat perlawananya yaitu: 1. Konsep perlawanan bersifat nasional 2. Mobilisir massa melalui organisasi 3. Mengembangkan diplomasi Ada dua faktor secara garis besar Yang menyebabkan tumbuhnya kesadaran nasional (Pergerakan Nasional) adalah: a. Faktor Intern: 1. penderitaan yang dialami rakyat akibat penjajahan 2. kesatuan indonesia dibawah pax Nerlandica 3. pembangunan infrastruktur ekonomi di daerah koloni. 4. Perkembangan penggunaan bahasa melayu yang kemudian menjadi bahasa Indonesia 5. Berlakunya undang-undang desentralisasi 6. Reaksi terhadap semangat kedaerahan 7. Terinspirasi terhadap kejayaan kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. b. Faktor Ekstern 1. Perkembangan pendidikan yang dikenalkan dari luar 2. Kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1905 3. Pergerakan dan perjuangan bangsa lain menentang penjajah seperti India, Turki, Irlandia, dll. C. Pergerakan Nasional Indonesia Pergerakan nasional adalah segala kegiatan yang berupa sikap, aksi dan tindakan yang konstruktif di bidang poleksosbud untuk mencapai tujuan Nasional bagi suatu bangsa. Adapun unsur penggerak dari pergerakan ini di dalam demensi subjektif terkandung unsur pimpinan, unsur perintis, unsur pelopor, unsur pendobrak, unsur pejuang, unsur kader dan unsur pembina. Kekuatan dari unsur pengerak ini dijalnkan tas dasar momentum nasional antara lain modal nasional, aspirasi nasional, motif nasional, dan spirit nasional yang memiliki kualitas dan sifat pergerakan. Setelah kita memahami konsep dasar dan pergerakan nasional maka kita dapat melihat bagaimanakah dinamika dari pergerakan nasional Indonesia. I. Budi Utomo Budi Utomo merupakan organisasi pergerakan pertama di Indonesia dan dirikan oleh mahasiswa-mahasiswa STOVIA di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908. tokoh-tokoh pendirinya adalah Dokter Wahidin Sudirohusodo, R. Sutomo, R. Gunawan Mangunkusomo dan Suraji. Inspirasi pendirinya datang dari Dokter Wahidin Sudirihusodo dengan mempropogandakan Ide-idenya, dan pemikiran-pemikran itu mendapat sambutan positif dari para mahasiswa Stovia \, kemudian di Bentuk Studi-founds. Wadah dari organisasi tersebut dinamakan Budi Utomo. Tanggapan tokoh Belanda dan pers Belanda terhadap organisasi ini adalah 1. Van Deventer berkomentar ”Hindia negeri cantik jelita yang selama ini tidur nyenyak, kini bangkit” 2. Pers Belanda mengomentari berdirinya Budi Utomo dengan kata-kata ”Java Vooruit” (Jawa Maju) dan ’Java Onwaakt” (jawa Bangkit). Kongres pertama Budi Utomo terjadi pa tanggal 5noktober 1908 menetapkan tujuan dari organisasi ini adalah: 1. Kemajuan yang selaras(harmonis) buat negeri dan bangsa, terutma dengan kemajuan pengajaran, pertanian, peternakan, dagang, tehknik dan Industri serta kebudayaan. 2. Membentuk pengurus besar (RT. Tirto Kusomo) dalam waktu 5-10 tahun terakhir Budi Utomo Mengalami perkembangan pesat dengan memiliki 40 cabang dengan anggota kurang lebih 10.000 orang. perkembangan selanjutnya Budi Utomo terdesak oleh organisasi lain yang beraliran lebi radikal, seperti: 1. Indisch nasionalisme radikal 2. Nasionalisme demokrasi dengan dasar agama (SI) 3. Pengajaran modern berdasarkan agama dan kebangsaan diluar poltik Organisasi yang bermunculan beserta sifat-siatnya tersebut sebenarnya merupakan orang-rang yang keluar dari Budi Utomo karena tidak puas terhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh budi Utomo terkait dengan sikap yang menjauhkan diri dari dunia politik dan unsur agama. Hal ini akan mengakibatkan Budi Utomo akan kurang mendapatkan simpati dari masyarakat. Sekalipun demikian Budi Utomo tetap ada kecenderungan berubah kearah Politik. Hal ini terlihat dari keputusan rapat umum di Bandung tanggal 5-6 agustus 1915 yang menetapkan Mosi, 1. Milisi perlu sekali diadakan untuk bangsa Indonesia 2. DPR perlu diadakan Selain aktivitas terseut Budi Utomo duduk pula dalam ”komite weerbar” dan dalam tahun 1917 mengadakan komite nasional untuk merundingkan arah jalan dan dna pemilihan pertama dari anggota anggota Volksraad. Pada tahun 1918 Budi Utommo juga masuk sebagai anggota Radicale Consentratie” badan ini merupakan usaha memajukan dan mempertahankan keharusan adanya sebuah majelis nasional sebagai parlemen pendahuluan, agar dapat menetapkan hukum dasar pembentukan parlemen yang sesungguhnya. Adapun organisasi yang menjadi anggota dalam radicale consentratie adalah ISDV,SI,dan Budi Utomo. Sedangkan program politik Budi utomo adalah bercita-cita mewujudkan pemerintahan parlementer berazas kebangsaan. Untuk mencapai hal tersebut berusaha mendapat peraturan pemerintah yang baik dan perbaikan dalam aturan pengadilan, hal ini untuk menhilangkan diskriminasi. Tetang agam memberikan hak yang sama untuk semua agama. Perubahan ini mungkin sekali disebabkan karena tidak adanya program poltik yang nyata, tidak adanya pemimpin poltik tunggal yang beribawa seperti partai-partai lain. Dilain pihak tidak dapat dipungkiri bahawa budi Utomo meskipun terkesan sebagai organiasasi golongan namun mampu mencerminkan kemampuanya yang luar biasa untuk melindungi dirinya. Atau dengan kata lain aktivis Budi Utomo dalam membangun kesadaran berbangsa disesuaikan dengan suhu politik yang ada. 2. SI Sarekat Islam didirikan di solo pada tahun 1911. adapun yang melatarbelakangi pendirian organisasi ini adalah: 1. Perlawanan terhadap dagang antara (Cina). 2. Telah tiba waktunya bagi kaum muslim untuk menunjukan kekuatanya 3. Untuk membuat Front melawan semua penghinaan terhadap rakyat peribumi 4. Reaksi terhadap kristenisasi yang dilakukan panjajah. Secar garis besar pembentuksn Sarekat Islam merupakan reaksi terhadap segala bentuk penandasan dan kesombongan rasial. Berdasarkan latar belakang di atas maka dirumuskanlah tujuan organisasi ini seperti yang tercantum dan anggaran dasarnya yaitu: 1. Mengembangkan jiwa dagang 2. Memberi bantuan kepada anggota-anggota yang menderita kesukaran 3. Memajukan pengajaran dan smua yang mempercepat naiknya Pribumi 4. Menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang agam Islam 3. Gerakan Pemuda Gerakan pemuda ini lahir dari adanya ketidak puasan yang dirasakan oleh golongan Muda atas nuansa pergerakan yang dilakukan oleh Oraganisasi-organisasi sebelumnya seperti Budi Utomo. Selain itu organisasi-organisasi tersebut di dominasi oleh golongan tua. Hal inilah yang membuat golongan muda berfikir mungkin sudah saatnya bagi goolongan muda membentuk Organisasi sendiri. Maka pada tanggal 7 Maret 1915 di Jakarta dibentuklah satu organisasi pemuda yang diberi nama Tri Koro Darmo. Tri koro darmo berarti tiga tujuan yang mulia, Yang beranggotakan para pelajar Jawa dan Madura. Pendirian organisasi ini dimotori oleh dr. R. Satiman Wiryosandjoyo, Kadarman, dan Sunardi. Adapun tujuan dari perkumpulan ini adalah mencapai Jawa raya dengan jalan memperkokoh rasa persatuan antara pemuda Jawa Sunda, Madura, Bali dan Lombok. Aza dari perkumpulan ini adalah: 1. Menjalin pertalian antara murid-murid Bumiputra pada sekolah menengah dan kursus perguruan kejurusan dan sekolah Vak 2. Menambah pengetahuan bagi anggota-anggotanya 3. Membangkitkan dan mempertajam perasaan buat segala bahasa dan budaya Indonesia Pada tanggal 12 Juni 1918 nama tri Koro darmo diubah menjadi Jong Java. Perbahan ini dimaksudkan untuk menghindari perpecahan anggota terutama pemuda yang berasal dari Madura dan Sunda. Jong java menurut angaran dasar pada tahun 1920, organisasi ini bertujuan untuk mendidik para anggota supaya kelak dapat memberikan tenaganya untuk membangun Jawa raya dengan jalan mempererat persatuan menambah pengetahuan anggota serta berusaha menumbuhkan rasa cinta akan budaya sendiri. Jong Java mempunyai komitmen untuk tidak terlibat dalam urusan politi, anggota-anggotanya tidak diperbolehkan ikut beraktifitas dan berkumpul dalam urusan politik. Hal ini ditegaskan dalam Konggres Jong Java pada bulan Mei 1922. Perkembangan propaganda dan pergerakan politik dalam negeri ternyata juga menggoyahkan komitmen Jong Java untuk tidak beraktifitas dalam kegiatan politik. Hal ini terlihat pada kongres VII yang dilaksanakan pada tahun. Tokoh yang mencoba memberikan propaganda politik bagi para anggotanya adalah H. Agus Salim yang memasukan usnsur kepentingan agama. Karena merasa Jong Java tidak bisa menampung kepentingan golongan Islam ini, maka golangan Islam ini mendirikan Jong Islamienten Bond. Seiring dengan berdirinya Jong Java maka berdiri pula organisasi-organisasi yang bersifat kedaerahan seperti Jong Minahasa, Jong, Batak, Jong Sumatera, Pasundan, Jong Celebes, Timorees Ver Bond yang kesemua bersita-cita ke arah kemajuan Indonesia, budaya dan daerah masing-masing. Masa Radikal Pengaruh perang dunia I yang meletus pada tahun 1914 terasa sampai di Indonesia. Boedi Oetomo mengetengahkan pentingnya pertahanan sendiri untuk menghadapi kemungkinan bahaya intervensi Uang asing kemudian Budi Utomo mengeluarkan: 1. gagasan wajib milier bagi penduduk Indonesia 2. wajib militer tersebut harus diputuskan dalam parlemen yang berhak membuat Undang-undang 3. dibentuknya parlemen di Di Indonesia yang sampai saat ini belum ada. Gagasan diatas melahirkan suatu panitia yang bernama Indie weerbar (Hindia yang berkedaulatan). utusan indie Weerbaar antara lain dwidjosewojo dan Abdul Muis. mereka dikirim ke negeri Belanda tetapi mengalami kegagalan dalam usahanya mendesak pemerintah Belanda untuk melalksanakan udang-undang wajib militer di Indonesia. akan tetapi mereka berhasil memperoleh kesediaan pemerintah untuk membahas soal perwakilan rakyat. Pada bulan Desember 1916 Undang-undang pembentukan volksraad (dewan rakyat) disahkan oelh parlemen bulan Me 1918, dewan ini dibuka dengan resmi, dengan jumlah anggota yang berimbang antara wakil-wakil Belanda dan Indonesia. sebagian dari anggota itu ditunjuk oleh pemerintah dan bukan dari partai. Pada tahun 1917 budi Utomo menetapkan sebuah program politik yang bercita-cita membentuk pemerintah parlementer yang berazaskan kebangsaan. di samping tu jug membentuk adanya persamaan hak utnuk semua agama. meskipun pada perubahan pandangan, budi Utomo tetap tidak menyetujui aksi-aksi yang bersifat kekerasan. tindakan-tindakan ini menujukan bahwa Budi Utomo sudah mulai bergerak dalam bidang politik. Pada tahun 1915 di Surabaya didirikan sentral sarekat Islam. Tugasnya membantu sarekat Islam daerah ke arah kemajuan dan mengatur kerja sama antar sarekat Islam Daerah. Pada bulan Juni 1916 di Bandung diadakan suatu kongres nasional sarekat Islam. Dalam kongres ini sebagai bahasa komunikasi secara resmi adalah bahasa melayu. Sedangkan pada kongres II di jakarta menghendaki di rubah Volksraad menjadi parlemen sejati. Sebagian kecil pimpinan sarekat Islam menolak untuk ikut serta dalam Volksraad kerna menganggap volksraat hanyalah sebagai alat kaum kapitalis untuk mengelabui rakyat Kaum sosialis kiri yang bergabung dalm Indische Social Vereeniging (ISDV) didirikan tahun 1914 yang dipimpin oleh H.J.F.M. Sneevliet, berhasil menyusuf ke Sarekat Islam pleh karena tujuan dari kedua organisasi ini hampir sama yaitu membela rakyat kecil dan menentang kapitalisme, tetapi dengan cara berbeda. Mereka berhasil mempengaruhi tokoh-tokoh Islam antara lain ; Semaun, Darsono, Tan Malaka, dan Alimin Prawirodirjo. Yang menyebabkan ISDV melakukan infiltrasi ke dalam tubu sarekat Islam adalah: 1. Central sarekat Islam sebagai badan koordinasi pusat kekuasaannya masih sangat Lemah 2. Tiap-tiap cabang sarekat Islam berdiri sendiri secara bebas 3. Para pemimpin lokal yang kuat mempunyai pengeruh yang menentukan di Sarekat Islam Cabang 4. Kondisi kepartaian waktu itu memungkinkan orang untuk menjadi anggota sekaligus 2 partai Dengan cara demikian beberapa pemimpin muda Syarekat Islam juga menjadi pempinan di ISDV, terutama sarekat Islam Cabang Semarang. Oleh karena itu orientas Sarekat Islam Semarang di bawah pengaruh ISDV mereka menjadi lawan CSI yang dipimpin oleh Hos Cokroaminoto. Sejak itu sarekat Islam Semarang berhasil dibawah ke arah Komunis Rusia. Berhasilnya revolusi Rusia tahun11917, maka kaum komunis Indonesia tanpa mempertimbangkan keadaan yang nyata di Indonesia juga menyerukan Indonesia agar membuat revolusi. Sementara itu ketidak puasan terhadap Volksraad yang dituntut agar diganti dengan parlemen sejati menimbulkan masalah yang serus di Indonesia. Untuk meredahakan ketegangan pemerintah Belanda melalui gubernur jenderal Belanda mengeluarkan pengumuman pada buan November 1918 yang berisi jani untuk memperbaharui ketatanegaraan di Indonesis. Maka pada bulan November 1919 dibentuklah komisi peninjan kembali. Hasil dari komisi ini tidak memuaskan pergerakan nasional Indonesi. ketika keadaan sudah reda, pemerintah menagambil kebijakan keras, orang-orang Belanda yang radikal diusir dai Indonesia dan beberapa pimpinan indonesia lainya di tangkap. PERGERAKAN NON KOOPERASI Proses radikalisasi yang terjadi di Indonesia antara lain disesbabkan oleh : Timbulnya krisis ekonomi tahun 1921 dan kerisis perusahaan gula pada tahun 1918 Pergantian kepala pemerintahan dengan gubernur jendra de Jonge (1931-1936).yang bersikap reaksioner, kebijakan politiknya sangat mengabaikan rakyat yang sedang berkembang. Sikap radikan ini ditandai dengan taktik yang non kooperatif dari partai politik. Artinya dalam memperjuangkan cita-citanya mereka tidak mau bekerja sama dengan pemerintah Belanda. Semua hal untuk mempercepat cita-cita diusahakan sendiri, antara lain memperkokoh persatuan nasional, memajukan pendidikan, meningkatkan kegiatan-kegiatan sosial untuk mensejahterakan rakyat, mereka juga tak mau memasuki dewan perwakilan rakyat yang dibentuk pemerintah kolonial baik dari dalam maupun pusat. 1. Indishe Vereeniging Perhimpunan Indonesia (PI) didirikan pertama kali pada tahun 1908 oleh orang-orang Indonesia yang berada di Negeri Belanda, diantaranya adalah Sultan Kasayangan, R.N. Nyoto Suroto, mula-mula organisasi ini bernama Indische Vereeniging. Tujuan awalnya adalah untuk memajukan kepentingan-kepentingan bersama dari orang-orang yang berasal dari Indonesia, maksudnya orang-orang pribumi dan non pribumi bukan Eropa, di Negeri Belanda dan hubungan dengan Indonesia. Mulanya organisasi ini hanya bersifat organisasi sosial. Akan tetapi semenjak berakhirnya Perang Dunia I perasaan anti kolonialisme dan Imperialisme di kalangan pimpinan-pimpinan Indische Vereeniging makin menonjol. Terlebih sejak adanya seruan Presiden Woodrow Wilson dari Amerika detelah PD I berakhir, kesadaran mereka tentang hak dari bengsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri dan merdeka dari penjajahan Belanda semakin kuat. Perkembangan baru dalam tubuh organisasi itu membawa perubahan nama yakni diganti menjadi Indonesische Vereeniging pada tahun 1922 dan pada tahun 1925 disamping nama dalam bahasa Belanda dipakai juga nama Perhimpunan Indonesia dan kelamaan hanya nama PI saja yang dipakai. Dengan demikian PI semakin tegas bergerak memasuki bidang politik. Perubahan ini didorong oleh bangkitnya seluruh bangsa-bangsa terjajah di Asia dan Afrika untuk menuntut kemerdekaan. Semenjak tahun 1923, PI aktif berjuang bahkan memelopori dari jauh pejuangan kemerdekaan untuk seluruh rakyat Indonesia dengan berjiwa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang murni dan kompak. Berdasarkan perubahan ini PI keluar dari Indonesisch Verbond van Studeeren karena dianggap tidak perlu lagi. Langkah radikal selanjutnya adalah merubah nama majalah PI dari Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka tahun 1924. Meningkatnya aktivitas PI kearah politik ini terutama sejak datangnya dua mahasiswa Indonesia ke Belanda yakni A. Subardjo tahun 1919 dan Moh. Hatta tahun 1921 yang keduanya kemudian pernah menjabat sebagai ketua PI. Sejak awal berdiri telah diformulasikan secara jelas program-program PI, meliputi perjuangan untuk tanah air dan juga ditunjang dengan program dalam memperkenalkan Indonesia ke dunia Internasional. Pada waktu PI diketuai oleh Sukiman, telah disusun program-program secara tegas dan lebih intensif. Pasal-pasal dalam PI jelas mencerminkan kesadaran PI, bahwa Indonesia tidak berdiri sendiri, yakni terlihat pada pasal 1, 2, 3. adapun pasal-pasal tersebut adalah sebagai berikut: 1. Pasal 1: Mempropagandakan asas-asas perhimpunan lebih intensif, terutama di Indonesia. 2. Pasal 2: Menarik perhatian internasional pada masalah Indonesia. 3. Pasal 3: Perhatian para anggota harus dibangkitkan buat soal-soal internasional dengan mengadakan ceramah-ceramah, bepergian ke negara-negara lain untuk studi dan lain sebagainya. Sementara itu kegiatan PI meningkat menjadi nasional-demokratis, non-koperasi dan meninggalkan sikap kerjasama dengan kaum penjajah, bahkan PI sering mengikuti kegiatan-kegiatan tingkat Internasional dan anti kolonial. Di bidang Internasional ini PI bertemu dan bekerjasama dengan tokoh-tokoh pemuda dan mahasiswa dari ASIA, Afrika dan Eropa. Bahkan PI berhubungan baik dengan perhimpunan pemuda-pemuda Belanda yang mendukung Indonesia untuk merdeka, seperti: 1. SDSC: Sociaal-Democratische Studenten Club (Perhimpunan Mahasiswa Sosial Demakrat) 2. SVA: Studenten Vredesactie (Perhimpunan Mahasiswa untuk Perdamaian) 3. JVA: Jongeren Vredesactie (Perhimpunan Pemuda untuk Perdamaian) 4. Antifa: Antifacistische Actie (Perhimpunan Mahasiswa anti Fasis) Untuk melaksanakan program-program kerja PI Pasal 1, telah ditempuh oleh Ali Sastroamidjojo dengan mengadakan penyelundupan majalah Indonesia Merdeka ke Indonesia. Sedangkan untuk pasal 2 dan 3 baru dapat dilaksanakan ketika PI di ketuai oleh Moh. Hatta. PKI Berdirinya Partai Komunis Indonesi (PKI) pada bulan Mei 1920 , yang merupakan jelmaan dari (ISDV) yang tidak membawa perubahan politik. Hadirnya PKI dalam Kanca politik Indonesia membawa dampak besar, PKI tidak segan-segan melakukan berbagai macaman cara untuk mencapai tujuannya. Pada tahun 1927 PKI mengadakan pemberontakan di Jakarta, disusul dengan Jawa Barat, Jawa tengah dan Jawa Timur. Usaha pemberontakan ini mengalami kegagalan karena masih belum kuat. PNI 4 Juli 1927, Perserikatan Nasional Indonesia didirikan di Bandung dengan Soekarno sebagai ketua umum. Pada Mei 1928, Perserikatan Nasional Indonesia makin menegaskan perjuangan politiknya dengan mengubah nama menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). Cikal bakal PNI bisa dilacak dari Algemeene Studieclub (Kelompok Belajar Umum) yang didirikan Soekarno pada 1925 di Bandung. Algemeene Studieclub yang terinspirasi oleh kelompok studi yang didirikan Soetomo di Surabaya ini didirikan oleh dan untuk kalangan mahasiswa, terutama mahasiswa Technische Hogeschol (Sekolah Tinggi Teknik). Algemeene Studieclub akhirnya menjadi sebuah organisasi yang sifatnya politis. Dalam kelompok inilah Soekarno banyak menggelar diskusi-diskusi dalam pembentukan pandangan politiknya, terutama ihwal “persatuan nasional”. Dari sini Soekarno mendapatkan bahan-bahan untuk artikelnya yang terkenal ihwal persatuan antara golongan nasionalis, Islam dan marxis. Gagasan persatuan yang punya kecenderungan eklektik itu pula yang diadopsi Soekarno dalam program-program PNI yang ia dirikan bersama anggota-anggotanya yang aktif di Algemeene Studieclub. PNI adalah partai yang memilih menggunakan cara non-kooperasi dan pengorganisasian massa. Inilah partai politik penting pertama yang beranggotakan orang-orang bumiputera, semata-mata mencita-citakan kemerdekaan politik, berpandangan kewilayahan dengan batas-batas yang meliputi seantero kekuasaan pemerintah Hindia Belanda dan berterusterang mengusung ideologi “nasionalisme yang sekuler”. Dengan memasang program pengorganisasian sebanyak-banyaknya massa, diasuh oleh semangat membangun persatuan massa dan mencoba menghindari rentang perbedaan pandangan dengan ideologi lain, PNI melaju dengan cepat sebagai partai politik yang didukung oleh anggota yang melimpah ruah. Bakat pidato Soekarno dan kemampuan Soekarno dalam memahami bahasa rakyat jelata dan menyampaikan gagasan-gagasan politiknya juga dengan bahasa yang dipahami rakyat jelata, menjadi salah satu faktor determinan dari tumbuhnya PNI sebagai partai dengan massa yang melimpah. Pada bulan Mei 1929, PNI telah memiliki cabang-cabang di hampir seluruh kota-kota besar di Jawa dan satu cabang di Palembang. Pada tahun yang sama, PNI juga mengklaim memiliki 3.860 orang anggota (sebagian besar di Bandung, Batavia dan Surabaya). Pada akhir 1929, PNI melaporkan bahwa anggotanya sudah berlipat menjadi 10 ribu orang. Di awal-awal pendirian PNI, Soekarno sudah berhasil merealisasikan gagasannya ihwal persatuan nasional dengan memelopori terbentuknya Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Selain PNI, wadah ini diikuti oleh Partai Sarekat Islam, Boedi Oetomo, Study Club Surabaya, serta sejumlah organisasi kedaerahan. Namun, Soekarno akhirnya harus menyadari bahwa perbedaan tujuan, ideologi dan cara perjuangan adalah sebuah kenyataan yang tak terbantah. PPPKI akhirnya benar-benar tak terselamatkan setelah Soekarno dan pimpinan PNI lainnya ditangkap dan dipenjarakan oleh pemerintah pada akhir 1930. PNI sendiri akhirnya dibubarkan pada 1931 menyusul ditolaknya banding Soekarno di pengadilan. Toh Soekarno tetap bergeming. Sekeluarnya dari penjara, imajinasi akan persatuan nasional yang melintasi perbedaan ideologi tetap ia pelihara dan perjuangan. Itulah sebabnya usai keluar dari penjara ia bersikukuh untuk mencoba memersatukan Partindo yang dipimpin Sartono dan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru) yang dipimpin Hatta-Sjahrir. Arti penting PNI dalam sejarah pergerakan kebangsaan terletak pada program partai tersebut yang gigih dan terus terang dalam mengupayakan terbangunnya sebuah front persatuan yang melintasi batas-batas ideologi dan cara perjuangan. AKTIVITAS PERGERAKAN Sejak tahun-tahun 1930-an peranan lembaga politik kolonial (Volksraad) makin meningkat. Lembaga itulah yang satu-satunya alat yang dibenarkan pemerintah kolonial untuk menyuarakan kepentingan-kepentingan pelbagai golongan. Sebab itu suara yang muncul dalam volksraad yang berasal dari golongan cooperatie itu sangat penting untuk mengetahui pemikiran-pemikiran bangsa Indonesia sejak sekitar tahun 1930 sampai 1942. Dalam masa dari tahun 1935 sampai 1942, partai-partai politik bangsa Indonesia menjalankan taktik-taktik parlementer yang moderat. Hanya organisasi-organisasi nonpolitik dan partai-partai yang bersedia bekerjasama dan setuju punya wakil dalam dewan-dewan ciptaan Belanda yang terjamin mendapat sedikit kekebalan dari gangguan pengawasan polisi. Dan satu-satunya forum yang secara relatif bebas menyatakan pendapat politik adalah dewan perwakilan ciptaan pemerintah kolonial Belanda itu. Dengan demikian, satu-satunya cara bagi gerakan nasionalis untuk mengusahakan perubahan ialah dengan jalan mempengaruhi pemerintah kolonial Belanda secara langsung melalui dewan tersebut, tidak dengan mengatur dukungan massa. Tokoh-tokoh pergerakan mulai memunculkan ide tentang pembentukan Fraksi Nasional di dalam volksraad. Akhirnya fraksi ini dapat didirikan tanggal 27 Januari 1930 di Jakarta beranggotakan 10 orang yang berasal dari daerah Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. 1. Petisi Soetardjo Gagasan dari petisi ini dicetuskan oleh Sutardjo Kartohadikusumo, Ketua Persatuan Pegawai Bestuur/ Pamongpraja Bumiputera dan wakil dari organisasi ini di dalam sidang Volksraad pada bulan Juli 1936. Isi petisi itu secara garis besar adalah tentang permohonan supaya diadakan suatu musyawarah antara wakil-wakil Indonesia dan Negeri Belanda di mana anggota-anggotanya mempunyai hak yang sama. Tujuannya adalah untuk menyusun suatu rencana yang isinya adalah pemberian kepada Indonesia suatu pemerintahan yang berdiri sendiri dalam batas pasal 1 Undang-undang Dasar Kerajaan Belanda. Petisi itu ada yang menyetujui dan ada yang tidak. Kalau dari pihak Indonesia ada yang tidak setuju, maka alasannya bukanlah soal isi petisi itu tetapi seperti yang diajukan oleh Gesti Noer ialah caranya mengajukan seperti menengadahkan tangan. Antara tokoh-tokoh Indonesia terjadi pro-kontra tentang petisi itu. Tetapi akhirnya petisi Soetardjo ditolak oleh Ratu Belanda pada bulan November 1938. 2. Gabungan Politik Indonesia (GAPI) Meskipun akhirnya Petisi Soetardjo itu ditolak, petisi itu ternyata mempunyai pengaruh juga yaitu membantu membangkitkan gerakan masionalis dari sikap mengalah yang apatis yang telah menimpanya sejak gerakan nonkooperasi dilumpuhkan. Suatu gagasan untuk membina kerjasama diantara partai-partai poltik dalam bentuk federasi timbul kembali pada tahun 1939. Pada tanggal 21 Mei 1939 di dalam rapat pendirian konsentrasi nasional di Jakarta berhasilah didirikan suatu organisasi yang merupakan kerjasama partai-partai politik dan organisasi-organisasi dengan diberi nama Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Tujuan GAPI adalah memperjuangkan hak menentukan nasib sendiri dan persatuan nasional. Kemudian tujuan itu dirumuskan dalam semboyan “Indonesia Berparlemen”. Sikap kurang menentukan kemerdekaan itu disebabkan adanya keprihatinan atas kemungkinan meletusnya Perang Pasifik. GAPI melakukan berbagai kampanye yang bertujuan menarik simpati rakyat untuk mendukung perjuangannya di dalam ketatanegaraan. Pada tanggal 14 September 1940 dibentuklah komisi untuk menyelidiki dan mempelajari perubahan-perubahan ketatanegaraan (Commissie tot bestudeering van staatsrechtelijke). Komisi ini diketuai oleh Dr. F.H Visman, selanjutnya dikenal dengan nama Komisi Visman. Pada awal pembentukannya, kalangan pergerakan mempertanyakan keberadaan kegunaan komisi itu. Akhirnya Komisi Visman menghasilkan laporan yang cukup tebal tentang berbagai tuntutan dan harapan-harapan rakyat Indonesia. Laporan itu terbit pada tahun 1942 hanya beberapa minggu sebelum kedatangan tentara Jepang ke Indonesia, sehingga laporan tersebut tidak jelas nasibnya. 3. Mosi Thamrin Pergerakan nasional terus berkembang dengan semakin meningkat dan mendalamnya kesadaran akan identitasnya. Dalam keadaan yang demikian, istilah-istilah Hindia Belanda (Nederlandsch Indie), pribumi (Inlander), atau kepribumian (Inlandsch) sangat sensitif di mata kaum pergerakan yang kesadaran akan identitasnya sudah mendalam. Mosi Thamrin mengusulkan agar istilah-istilah tersebut diganti dengan Indonesie (Indonesia), Indonesier (bangsa Indonesia) dan keindonesiaan (Indonesisch), khususnya di dalam dokumen-dokumen pemerintah. Keberatan pemerintah terhadap mosi ini adalah bahwa perubahan istilah itu membawa implikasi politik dan ketatanegaraan, seperti apa yang termaktub dalam UUD Kerajaan Belanda. Di samping itu ada argumentasi “ilmiah” ialah bahwa Indonesia bukan nama geografis, dan bangsa Indonesia juga tidak menunjukan pengertian etnologis. SIKAP PEMERINTAH KOLONIAL Dalam menanggapi berbagai bentuk petisi dan mosi dari berbagai tokoh pergerakan yang melakukan kooperasi di dalam volksraad, ternyata sikap pemerintahan kolonial sangat mengecewakan. Akibatnya bagi bangsa Indonesia ialah pada satu pihak jurang antara pemerintah dan rakyat semakin besar dan dipihak lain gerkan nasionalis semakin menyadari bahwa tidak dapat lagi orang menruh harapan kepada penguasa kolonial. Jadi harus semakin berpaling kepada masyarakat sendiri. Pada saat Belanda dikuasai Jerman sedangkan di Asia terhadap ancaman Jepang semakin nyata, ternyata sikap pemrintahan Belanda tetap tidak berubah. Pemerintahan kolonial Belanda ternyata tidaklah sekhawatir yang diduga orang Indonesia mengenai situasi Internasional. Pemerintah kolonial meremehkan ancaman dari Jepang Andaikata mereka takut kalah, tidak ada kemungkinan ketakutan ini akan mendorong para penguasa kolonial untuk merangkul kaum nasionalis, yang mereka benci dan curigai. Yang paling mungkin dijanjikan Belanda ialah untuk mempertimbangkan perubahan konstistusi setelah perang. Sampai pada akhirnya Jepang yang bekerjasama dengan Nazi Jerman memenangkan perang sehinnga memaksa Belanda Keluar dari Indonesia. Mulai saat itu kekusaan atas Indonesia berpindah ke tangan Jepang yang memiliki senboyan ”pembebasan bangsa-bangsa Asia dari penjajahan bangsa Barat”. Dengan demikian berakhirlah penjajahan Belanda di Indonesia. PENUTUP Dengan pengalaman sejarah yang dipaparkan di atas jelaslah bahawa kolonialisme dan imperialisme dengan segala bentuknya merusak sendi-sendi masyarakat yang dijajah yang tidak sesuai dengan prikemanusiaan Perlawanan bangsa Indonesia dari sejak dahulu memberikan pelajaran yang sangat berharga bahwa persatuan dan kesatuan sangat penting bagi keutuhan suatu bangsa. Kita akanm udah dihancurkan apabila kita terpecah belah. Pergerakan nasional yang membangkitkan semangat nasionalisme memegang peranan penting bagi tercapainya kemerdekaan Indonesia. Perjuangan bangsa Indonesia belumberakhir. Kita harus tetap melanjutkan perjuangan untuk mengisi kemerdekaan ini untuk mencapai cita-cita masyarakat nasional yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

2 komentar:

  1. pergerakan Indonesia mencapai kemajuan

    BalasHapus
  2. pergerakan adalah awal kemerdekaan, komentar balik ya ke blog saya www.goocap.com

    BalasHapus