Selasa, 25 Oktober 2011

KERAJAAN MATAN SUKADANA

HUBUGAN SILSILAH KESULTANAN MATAN,SAMBAS,BRUNAI,SARAWAK,PONTIANAK DAN MEMPAWAH

Kesultanan Sambas mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kerajaan Matan,ketika Raja Tengah(Raja Sarawak) pada tahun 1600 terdampar di Matan,ia kawin dengan saudara Sultan Muhammad Syafiuddin (1627-1677) bernama Puteri Surya Kesuma..Raja Tengah adalah menantu dari Giri Kesuma mempunyai tiga orang putera Yaitu Raden Sulaiman(Sultan Sambas pertama),Raden Badaruddin dan Raden Abdul Wahab serta dua orang puteri yaitu Raden Rasmi Puteri dan Raden Ratnawati.Raden Sulaiman yang kemudian menjadi Sultan Sambas pertama bergelar Sultan Muhammad Syafiuddin,mengambil gelar kakeknya Sultan Matan ,Yaitu Sultan Muhammad Syafiuddin (jadi pembaca tidak usah bingung dengan banyaknya persamaan gelar sultan antara Sambas,Matan dan Brunai)…

Hubungan kekerabatan antara Matan Sukadana dengan berbagai kerajaan sangat erat dan salin turun temurun..Matan sudah menjadi induk Susur Galur Kesultanan Sambas,Mempawah dan Ponntianak.
Hubungan keturunan itu antara lain :
-Puteri Surya Kesuma dari Matan adalah isteri Raja Tengah dari Sarawak dan ibunda dari Sultan Muhammad Syafiuddin I (Sultan Sambas Pertama).

-Sultan Muhammad Tajudin (Sultan Sambas kedua) kawin dengan adik dari Sultan Muhammad Zainudin dari Matan,bernama,Indra Kesuma.

-Ibunda dari Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri (Sultan Pontianak) adalah seorang puteri kerajaan Matan yang bernama Nyai Tua,kawin dengan Syarif Husin Alkadri.

-Sultan Muhammad Zainudin dari Matan kawin dengan Puteri Mas Endrawati,puteri dari Panembahan Sengkawok,Mempawah.

-Panembahan Mempawah Opu Daeng Manambun kawin dengan Puteri Kesumba,puteri Sultan Muhammad Zainuddin dari Matan.

-Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri,(Sultan Pontianak) kawin dengan Puteri Chandramidi,Puteri dari Daeng Opu Manambun (Panembahan Mempawah).

Riwayat hubungan tiga serangkai antara Sambas dengan Brunai dan Matan Sukadana ditambah lagi dengan tautan silsilah Kesultanan Pontianak serta Mempawah,Merupakan ikon sejarah kerajaan kerajaan di Kalimantan Barat yang telah memperkokoh pula nama Kesultanan Sambas…
KERAJAAN MATAN SUKADANA

Apabila kita simak secara singkat riwayat kerajaan Matan,bermula dari cerita rakyat Ketapang tentang “Puteri Junjung Buih” atau Dayang Putung.Ia diketemukan hanyut di atas buih oleh seorang Rangga Santap petinggi dari Majapahit..Puteri Junjung Buih dikawin kan dengan Pangeran Brawijaya,keturunan Majapahit,ia mendirikan kerajaan dimuara sungai Pawan kemudian digantikan anaknya Pangeran prabu Jaya atau Bapurung tahun 1431,ia digantikan puteranya Pangeran Karang Tunjung (1431-1450).

Kerajaan Matan Sukadana yang disebut pula kerajaan Tanjungpura menjadi Bandar perdagangan besar dibagian barat Kalimantan.

Matan memjadikerajaan Islam Pada masa Panembahan Baruh (1538-1550).ia digantikan Panembahan GIri Kesuma (1550-1600) yang kawin dengan Puteri kerajaan Landak (persatuan Landak dan Matan).
Ketika Panembahan Giri Kesuma wafat tahun 1600,istrinya menjabat wali Negara,karena Putera mahkota Panembahan Giri Kesuma masih kecil…Tahun1604,Matan mengikat perjanjian dengan Belanda (VOC) yang menimbulkan kemarahan Raja Mataram.Tahun 1622 Mataram mengirim Tumenggung Baurekso,Bupati Kendal menyerang Matan.

Giri Mustika menjadi sultan kerajaan Matan dengan gelar Sultan Muhammad Syafiuddin (1622-1659) ipar dari Raja Tangah,paman Sultan Sambas pertama.ia digantikan Sultan Muhammad Zainuddin I (1659-1724).Saudara Sultan Muhammad Zainuddin kawin dengan Raden Bima Sultan Sambas Kedua dengan gelar (Sultan Muhammad Tajuddin).
Tahun 1700 terjadi perang antara Landak dan Matan,karena perebutan pewarisan intan kobi.Landak dibantu oleh Banten dan VOC, karena itu kemudian Banten menyatakan Landak dan Matan dibawah kuasa Banten.Pada peperangan ini Panembahan Agung Sandora kini sultan Zainuddin,mengadakan penghianatan ingin menduduki tahta,sehingga Sultan Muhammad Zainuddin menyingkir kekota Waringin (Banjar) .Dengan bantuan Daeng Berlima yaitu : Opu Daeng Manambun,Opu Daeng Kemasi,Opu Daeng Parani,Opu Daeng Marewah dan Opu Daeng Chelak,kedudukan Sultan Muhammad Zainuddin dapat dipulihkan kembali.Opu Daeng Manambun dikawinkan dengan anak Sultan Muhammad Zainuddin yaitu Puteri Kesumba.Opu Daeng Manambun kemudian diangkat oleh Sultan Muhammad Zainuddin menjadi Panembahan Mempawah,menggantikan Panembahan Senggawok.
Oleh Sultan Muhammad Zainuddin Kerajaan Tanjung Pura Matan dibagi bagi kepada puteranya.Pangeran Mangkurat di Imdralaya,Pangeran Ratu Agung di di Simpang dan Pangeran Martadipura di Karta pura.
Tahun 1724 Sultan Muhammad Zainuddin wafat digantikan Sultan Ma’aziddin (1724-1762) sebagai Sultan Matan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


Comments